2010/03/22

The Qur’aan On Clouds (Al Qur'an Tentang Awan)

#

Scientists have studied cloud types and have realized that rain clouds are formed and shaped according to definite systems and certain steps connected with certain types of wind and clouds.

Para ahli sains telah mempelajari berbagai macam awan dan mengerti bahwa awan yang menimbulkan hujan (awan hujan) dibentuk menurut sistem yang tertentu dan melalui tahapan-tahapan yang tertentu pula yang terhubung dengan model angin dan mendung yang tetap. One kind of rain cloud is the cumulonimbus cloud associated with thunderstorms. Meteorologists have studied how cumulonimbus clouds are formed and how they produce rain, hail, and lightning. They have found that cumulonimbus cloud go through the following steps to produce rain:

Salah satu dari awan yang menimbulkan hujan adalah yang disebut dengan 'awan cumulonimbus' yang berhubungan dengan badai. Ahli meteor (meteorologis) telah mempelajari bagaimana awan cumulonimbus terbentuk dan bagaimana awan ini menghasilkan hujan, hujan es dan kilat. Mereka menemukan bahwa awan cumulonimbus pergi melalui beberapa tahap berikut untuk menghasilkan hujan:

1. The clouds are pushed by the wind: Cumulonimbus clouds begin to form when wind pushes some small pieces of clouds (cumulus) to an area where these clouds converge.

2. Joining: Then the small clouds join together forming a larger cloud.

3. Stacking: When the small clouds join together, updrafts within the larger cloud increase. The updrafts near the center of the cloud are stronger than those near the edges. These updrafts cause the cloud body to grow vertically, so the cloud is stacked up. This vertical growth causes the cloud body to stretch into cooler regions of the atmosphere where drops of water and hail formulate and begin to grow larger and larger. When these drops of water and hail become too heavy for the updrafts to support them, they begin to fall from the cloud as rain, hail, etc.


1. Awan didorong oleh angin: Awan cumulonimbus mulai terbentuk ketika angin mendorong beberapa bagian kecil dari awan (kumulus) menuju daerah di mana awan-awan berkumpul.

2. Penggabungan: Kemudian awan yang kecil bergabung bersama membentuk awan yang lebih besar.

3. Penumpukan: Ketika awan yang kecil bergabung bersama, angin yang berhembus ke arah atas di dalam awan yang lebih besar meningkat. Angin yang berhembus ke arah atas ini yang dekat dengan pusat awan lebih kuat dari pada angin yang berhembus ke arah atas yang ada di tepi. Angin yang berhembus ke arah atas ini menyebabkan tubuh awan berkembang secara vertikal (ke atas), maka awan-awan bertumpuk-tumpuk. Perkembangan secara vertikal ini menyebabkan tubuh awan merentang kepada daerah-daerah yang lebih dingin dari atmosfir di mana tetesan hujan dan butiran es terbentuk dan mulai berkembang makin besar. Ketika tetesan air dan butiran es ini menjadi beban yang sangat berat bagi angin yang berhembus ke arah atas, mereka mulai jatuh dari awan sebagai hujan, butiran es, dan sebagainya.


Allah said in the Qur'an:
Have you not seen how Allah makes the clouds move gently, then joins them together, then makes them into a stack, and then you see the rain come out of it...? [Qur'aan 24:43]

Allah berfirman dalam Al-Quran:
Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatan olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (Quran 24:43)

Meteorologists have only recently come to know these details of cloud formation, structure, and function by using advanced equipment like planes, satellites, computers, balloons, and the like to study winds and its direction, to measure humidity and its variations, and to determine the levels and variations of atmospheric pressure.

Ahli meteorologi mengetahui detail dari pembentukan awan, struktur, dan fungsinya baru-baru ini saja dengan menggunakan peralatan seperti pesawat, satelit, komputer, balon udara, dan sebagainya untuk menyelidiki tentang angin dan arahnya, untuk mengukur kelembaban dan variasinya, dan untuk menentukan level dan variasi tekanan atmosfir.

The preceding verse, after mentioning clouds and rain, speaks about hail and lightning:
And He sends down hail from mountains (clouds) in the sky, and He strikes with it whomever He wills, and turns it from whoever He wills. The vivid flash of its lightning nearly blinds the sight. [Qur'aan 24:43]

Ayat berikut ini, setelah menyebutkan tentang awan dan hujan, berbicara mengenai hujan es dan kilat:
Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatan olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (Quran 24:43)

Meteorologists have found that these cumulonimbus clouds, that shower hail, reach a height of 25,000 to 30,000 feet (4.7 to 5.7 miles), like mountains, as the Qur'aan said: And He sends down hail from mountains (clouds) in the sky ... (Qur’an 24:43)

Ahli meteorologi menemukan bahwa awan cumulonimbus ini, yang menghujankan es, mencapai ketinggian 25.000 sampai dengan 30.000 kaki (4.7 s.d. 5.7 mile), bagaikan pegunungan, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran: Dan Dia mengirimkan butiran-butiran es dari gunung (awan) di langit ... (Quran 24:43)

This verse may raise a question. Why does the verse say ... its lightning in reference to the hail? Does this mean that hail is the major factor in producing lightning? Let us see what the book entitled Meteorology Today, says on this. It says that clouds become electrified as hail falls through a region in the cloud of supercooled droplets and ice crystals. As liquid droplets collide with hail, they freeze on contact and release latent heat. This keeps the surface of the hail warmer than that of the surrounding ice crystals.

Ayat ini mungkin akan membangkitkan sebuah pertanyaan. Mengapa ayat tersebut menyatakan ... 'kilatnya' ketika menyatakan tentang hujan es? Bukankah ini berarti bahwa butiran es adalah faktor terbesar yang menyebabkan kilat? Mari kita lihat sebuah buku yang berjudul 'Meteorologi Hari Ini (Meteorology Today)', yang menyatakan tentang ini. Buku ini mengatakan bahwa awan menjadi bermuatan listrik ketika butiran es jatuh melalui sebuah daerah di awan yang sangat dingin dan berbentuk kristal es. Ketika butiran cair bertumbukan dengan butiran es, mereka membeku ketika bersentuhan dan melepaskan panas yang terpendam. Ini untuk menjaga permukaan butiran es tetap lebih hangat dari pada kristal es di sekitarnya.

When the hail comes in contact with an ice crystal, an important phenomenon occurs. Electrons flow from the colder object toward the warmer object. Hence, the hail becomes negatively charged. The same effect occurs when super cooled droplets come in contact with a piece of hail and tiny splinters of positively charged ice break off. These lighter, positively charged particles are then carried to the upper part of the cloud by updrafts. The hail, left with a negative charge, fall toward the bottom of the cloud, thus the lower part of the cloud becomes negatively charged. These negative charges are then discharged to the ground as lightning. We conclude from this that hail is the major factor in producing lightning.

Ketika butiran es bersentuhan dengan kristal es, fenomena penting terjadi. Elektron mengalir dari objek yang lebih dingin menuju objek yang lebih hangat. Oleh karenanya butiran es terbebani elektron negatif. Efek yang sama terjadi ketika tetesan yang sangat dingin bersentuhan dengan butiran es bermuatan positif. Pemicu api ini, yang terbenani partikel bermuatan positif kemudian terbawa menuju bagian awan yang lebih tinggi oleh angin yang berhembus ke arah atas. Butiran es, yang tertinggal dengan beban negatif, jatuh menuju bagian bawah dari pada awan, sehingga bagian bawah awan menjadi bermuatan negatif. Beban muatan negatif ini kemudian ditembakkan ke bumi sebagai kilat. Kita bisa menyimpulkan dari keterangan ini bahwa butiran es adalah faktor utama yang menimbulkan kilat.

This information on lightning was discovered only recently. Until 1600 A.D., Aristotle's ideas on meteorology were dominant. For example, he said that the atmosphere contains two kinds of exhalation, moist and dry. He also said that thunder is the sound of the collision of the dry exhalation with the neighboring clouds, and lightning is the inflaming and burning of the dry exhalation with a thin and faint fire. These are some of the ideas on meteorology that were dominant at the time of the Qur'aan's revelation, fourteen centuries ago.

Informasi tentang kilat ini hanya ditemukan baru-baru ini saja. Sampai dengan 1600 abad, ide Aristotle tentang meteorologi masih dominan. Sebagai contoh, dia menyatakan bahwa atmosfir berisi dua macam uap, basah dan kering. Dia juga mengatakan bahwa guntur adalah suara benturan antara uap kering dengan awan yang berdekatan, dan kilat adalah kobaran pembakaran dari uap kering yang tipis. Ini adalah ide-ide pada bidang meteorologi yang dominan pada masa Al-Quran diturunkan 1400 tahun yang lalu.

http://www.gulfdc.com/offline/www.it-is-truth.org/chapters/clouds.htm

0 komentar:

Posting Komentar